Lynx yang terlihat sebagai orang asing dan berniat mengganggu pekerjaannya, membuat pria tersebut segera beranjak pergi untuk melaksanakan tugasnya.

Melihat Orang tersebut hendak beranjak pergi, akhirnya Lynx terpaksa mengeluarkan lagi beberapa keping uang krun dan menyerahkannya kepada pria tersebut. "Kami tidak berniat jahat. Kami hanya butuh sedikit informasi."

Pria tersebut berhenti dan dengan mata menyelidik dia menjawab, "Apa yang kamu ingin tanyakan? Pimpinan kami? Kami semua disini sama, hanya mengikuti instruksi. Kami semua cuma orang bayaran. Kami diminta melakukan hal-hal seperti menyiapkan tempat ini sesuai instruksi yang diberikan kepada kami, lalu nanti disuruh pergi begitu tugas selesai. Bayaran langsung ditransfer… kami tidak pernah tahu siapa di balik semua ini."

Leena mendekat, suaranya rendah namun menusuk. "Tidak ada satu pun yang pernah bertemu dengan orang yang menyuruh kalian?"

Pria itu menggeleng cepat. "Tidak. Semua dijalankan lewat pesan otomatis di papan pencari kerja. Setiap giliran kami selesai, kami digantikan tim lain dengan tugas berbeda-beda dan tidak perlu mengetahui apa tugas yang lainnya. Kalau terlalu banyak tanya, kami dicoret dari daftar kru dan kehilangan bayaran."

Lynx dan Leena saling berpandangan. Meski langkah mereka sedikit lebih dekat ke kebenaran, bayangan di balik arena kematian itu masih tetap tersembunyi. Namun, siang itu, mereka tahu, organisasi yang mereka sedang cari, jauh lebih rahasia dan misterius daripada yang mereka bayangkan.

Lynx dan Leena segera menyelinap keluar dari arena dan berniat kembali ke tempat tinggal sementara mereka. Di sepanjang jalan, keduanya diam, hanya saling bertukar pandang sekali dua kali tanpa berkata-kata. mereka berdua memikirkan hal sama, organisasi The Circuit ini jauh lebih misterius dan berhati-hati dari yang mereka duga.

“Bahkan kru mereka saja tak tahu apa-apa…” gumam Leena saat akhirnya mereka duduk di atap sebuah gedung usang, memandangi langit kelabu kota. “Semua berjalan otomatis. Terorganisir, tapi seolah tanpa wajah.”

Lynx mengangguk sambil mengeluarkan kotak kecil yang mereka terima. “Dan kita tak bisa langsung bertindak. Lihat! waktu pendaftaran tutup sekitar tiga hari lagi tetapi tidak menyebutkan kapan pendaftaran dibuka dan dimana mendaftar.” Ia memandang jauh, lalu berkata lirih, “Tiga hari… dan entah apa yang terjadi pada Isha dalam waktu itu.”

Leena tiba-tiba tertarik kepada sebuah kalimat didekat waktu mundur. "Tunggu, Lynx baca tulisan ini. Kita terlalu fokus kepada Isha sehingga tidak memperhatikannya. Waktu pendaftaran segera di informasikan. Bukankah kemungkinan saat waktunya tiba, kita akan mendapatkan informasi lebih lanjut."

Lynx menganggukkan kepalanya,"Mereka sangat berhati-hati. Dengan cara menginformasikan waktu penutupan, mereka secara tidak langsung memberi tahu kapan acara di adakan. Dan lokasi serta waktu pendaftaran, sepertinya mereka menunggu sesuatu."

Leena menarik lututnya, memeluknya erat. “Kadang aku berpikir, tujuan kita lain tapi arah yang kita tuju juga lain. Kita mau menyelamatkan Lala, sekarang menjadi Isha. Sudah hampir seminggu sejak kita terpisah dari Lala…” Suaranya lemah, dibalut kegelisahan yang tak bisa disembunyikan. “Kau pikir dia baik-baik saja?”

Lynx diam, hanya menatap langit tanpa menjawab. Leena menghela napas, lalu melanjutkan, “Kita hanya ingin pulang, keluar dari pulau asing tempat kita terdampar. Awalnya… itu saja. Tapi lihat sekarang, banyak hal sudah kita lewati. Dari kita diserang binatang buas, menemukan gunung misterius, dikejar makhluk mutasi, harus melawan suku Monrest, dan entah bagaimana malah terdampar di dunia kultivator dan sekarang kita berada di planet asing. Ini seperti tak berujung.”

Leena semakin memeluk lututnya, rasa rindunya kepada ayahnya semakin besar, juga kerinduan kepada ibu kandung yang sudah lama tidak ditemuinya."Apakah mereka baik-baik saja? Apakah mereka mencariku? Atau menganggapku sudah tiada?" bisiknya dengan nada sedih.

Mendengar bisikan pelan Leena, Lynx merangkulnya dan berusaha menenangkan,"Percayalah, aku tidak akan melupakan janjiku membawamu pulang dan menikahimu. Itu sebabnya aku tidak ingin banyak terlibat dengan permasalahan yang ada agar bisa fokus mencari jalan pulang."

Leena merasa agak terhibur mendengar kata-kata Lynx. Sejak terdampar ditempat asing, dia sudah merasa tanpa Lynx, dia tidak akan bisa bertahan sejauh ini. Lynx sudah berkali-kali menyelamatkan hidupnya. Dia percaya Lynx pasti bisa membawanya pulang.

“Di Planet Orjeon… kamu sudah buktikan semua kata-katamu,” gumamnya sambil menyeringai kecil. “Dengan… meninggalkanku, bukannya langsung melamarku di depan ayahku…”

Lynx membeku, wajahnya langsung panik. “I..it...itu bukan maksudku! Aku cuma… ingin kau bisa melepas rindu dulu, bersama keluargamu. Setelah itu baru aku datang dengan resmi… bersama keluargaku juga…”

Leena terkikik pelan, lalu mencubit pipinya. “Aku tahu, aku cuma menggoda.” Tatapannya melunak. “Aku tahu kamu nggak akan pernah meninggalkanku.”

Lynx menghela napas lega, tapi sebelum ia bisa menikmati momen itu, Kata-kata Leena berikutnya membuat Lynx merasa sulit menelan.

“Tapi dengar ini ya,” katanya pelan tapi menusuk, “kalau sampai kamu berani meninggalkanku, aku akan lapor ke orangtuaku dan polisi. Aku akan bilang kamu sudah mengambil keperawananku.”

"Tentu tidak...." Jawab Lynx cepat."Aku tentu akan segera menikahimu dan memiliki ribuan anak denganmu."

“Uh… ribuan?”

Leena langsung mencubit pipinya lebih keras. “Kamu pikir aku mesin? Ribuan anak?!”

Lynx meringis, buru-buru meralat, “Maaf! Dua! Dua saja cukup! Aku… aku nggak mau berbagi kasih sayangmu sama terlalu banyak anak…”

Wajah Leena langsung memerah. Ia cepat-cepat memalingkan muka, tidak ingin Lynx melihat senyumnya yang tak bisa disembunyikan.

Tapi Lynx justru semakin menggoda. “Jadi… mau mulai bikin sekarang? Supaya pas kita pulang, orang tuamu langsung dapat cucu?”

Wajah Leena langsung berubah. Tapi kali ini bukan karena malu atau marah, melainkan sedih.

“Lynx… jangan dulu,” katanya lirih. “Aku ingin anak kita lahir dalam kondisi aman… dikelilingi orang-orang yang kita cintai. Bukan di tempat seperti ini dimana bahaya selalu mengintai kita dan banyak urusan belum di selesaikan.” Ia menatap Lynx dengan penuh kepercayaan. “Itu sebabnya aku percaya padamu… pada kemampuanmu menjaga semuanya. Dan pada ramuan yang kamu berikan.”

Lynx langsung tertunduk, merasa bersalah. “Maaf… aku hanya ingin membuatmu tertawa. Ramuan itu… ditambah akupuntur yang aku berikan, akan melindungimu. Kau tidak akan hamil sebelum waktunya.” Ia tersenyum kaku. “Setidaknya aku tidak perlu keluar di luar lagi seperti waktu kita di Planet Surya…”

Leena melirik tajam sambil memukul pelan bahunya. “Kamu ngomongnya bisa nggak usah terlalu teknis?”

Melihat Leena yang mulai terlihat ceria lagi, Lynx mengalihkan pembicaraan dan memandang cincin penyimpanan yang terpasang di jarinya. Dari sana, ia mengeluarkan sebuah parang yang terlihat bercahaya terkena sinar lampu dari sekitar. Permukaannya sedikit kasar, tapi tepiannya masih tajam, dan gagangnya dibuat dengan sangat sederhana.

“Ini…” katanya pelan. “Kenangan kita. Parang pertama yang kita buat bersama.”

Mata Leena membelalak. Ia mendekat cepat, menyentuh bilah parang itu. “Tunggu… bukankah kamu bilang parang itu diambil para perampok saat kamu menolong Jelita?”

“Sepertinya pimpinan perampok itu, Kronar, menyerahkannya ke suku Monrest. Dan… entah bagaimana, leluhur Monrest menyimpannya di cincin penyimpanan ini. Mungkin saat itu semua benda berharga yang ada di kampung mereka disimpan dicincin penyimpanan termasuk mesin dimensi milik Lala.”

Leena menatap parang itu lekat-lekat, lalu perlahan matanya melebar, penuh kilat ingatan. “Lynx… bukankah logam ini… ciri-cirinya sama seperti yang dikatakan para teknisi itu? Bijih besi Rundaril!”

Lynx langsung menoleh. “Kau yakin?”

Leena mengangguk cepat. “Kau ingat? Ciri-cirinya sangat mirip. Kita bahkan saat itu mengolah bijih besi menjadi berbagai senjata dan peralatan dengan mudah namun yang dihasilkan sangat kuat. Ditambah Lala mengatakan material bijih besi ini banyak digunakan di dunianya. Apakah kamu memiliki perlengkapan lainnya?"

Lynx menggelengkan kepalanya,"Hanya parang ini yang kutemukan. Senjata lainnya banyak yang kubuang karena merasa senjata peninggalan leluhur Xiao Tang ada banyak jumlahnya di cincin penyimpanan. Aku juga membuang peralatan memasak dan menggantinya dengan yang lebih baik di kota Zhurong."

"Semua senjata saat itu direbut suku Monrest, tetapi aku tidak tahu dimana senjata-senjata itu setelahnya. Kurasa parang ini sudah lebih dari cukup." Kata Leena.

Lynx berdiri dengan semangat yang menyala. “Kalau begitu… kita bawa parang ini ke mereka. Sekarang juga.”

"Tunggu Lynx, kita jangan sembarang memilih teknisi. Aku merasa pria tua yang terakhir kita datangi lebih cocok. Aku merasa bisa mempercayainya." Kata Leena. Dia tidak ingin bahan satu-satunya yang mereka miliki diambil orang karena dianggap berharga.
